Hacker Gadungan, Tenggelamkan Saja

Hacker Gadungan, Tenggelamkan Saja

Hacker Gadungan Tenggelamkan Saja – In short : Banyak hacker abal – abal. Ada dua hacker abal – abal, orang yang mengaku memiliki kemampuan untuk menghack dan orang yang menipu orang lain supaya dapat uang. Waspadai, hindari.

[ Note : Artikel ini juga ditujukan kepada siapapun yang bertanya kepada saya untuk hack media sosial. Lihat langsung bagian kesimpulan ]

Apa itu Hacking ?

Kamu pasti sering dengar kata hack. “Wah, dia hacker ati – ati aja sama dia, ntar handphone kamu dihack“. Mungkin pernyataan seperti itu sering kamu dengar tapi mungkin juga kamu belum mengetahui apa itu kegiatan hacking.

[ Meskipun menulis artikel ini, bukan berarti saya sepenuhnya paham tentang aktivitas hacking ]

Kalau kamu ketik di Google “Apa arti hack”, di bagian jawaban paling atas muncul tulisan bahwa hacking adalah “use a computer to gain unathorized access to data in a system”. Jika diterjemahkan, hacking adalah kegiatan menggunakan komputer untuk mendapatkan akses yang tidak sah kedalam sebuah sistem.

Jadi, kalau ada orang yang bisa masuk ke sistem komputer tanpa ijin, memasang aplikasi berbahaya, akses database, server tanpa ijin menurut definisi Google hal itu adalah tindakan hacking atau peretasan.

Beberapa sumber lain (internet), pada dasarnya juga sama. Bahwa intinya hacking adalah aktivitas memasuki sebuah sistem tanpa ijin.

Apa itu Hacker ?

Secara sederhana, hacker adalah orang yang melakukan hacking. Jadi, kalau ada orang yang bisa melakukan hacking maka sederhananya dia bisa disebut sebagai hacker.

Tapi itu sederhananya. Sebenarnya bukan seperti itu.

Mengambil referensi dari pegiat GNU / Linux dan Open Source, kang Ade Malsasa, menurut beliau seseorang disebut hacker bila :

1. Orang tersebut menguasai satu bahasa pemrograman. Ingat, menguasai bukan hanya tahu
2. Orang tersebut concern soal keamanan
3. Memahami sistem komputer yang digunakan
4. Memahami seluk beluk jaringan komputer
5. Punya kontribusi positif terhadap komunitas free / open source software atau BSD
6. Memiliki etika internet
7. Mampu memasang perangkat lunak dengan cara compile dari kode sumber
8. Mampu membuat tools sendiri
9. Mampu menggunakan tools orang lain
10. Tidak berbicara atau membuat kesimpulan sembarangan
11. Punya pengalaman hacking

Meskipun tidak ada patokan pasti apakah poin diatas mutlak benar, tapi saya anggap poin diatas semuanya adalah benar. Hacker harus punya 11 kemampuan diatas, kalau tidak ya bukan hacker.

Nah, itu dari satu sumber.

Mengambil referensi lain, Eric Raymond, pembuat buku The New Hacker’s Dictionary membuat lima kualifikasi hacker :

  1. Hacker adalah orang yang menikmati kegiatan belajar yang berhubungan dengan pemrograman atau sistem
  2. Hacker adalah orang yang benar – benar mengaplikasikan bahasa pemrograman, bukan hanya sekadar tahu teori
  3. Hacker adalah orang yang menghargai hasil hacking orang lain
  4. Hacker adalah orang yang suka dengan pemrograman
  5. Hacker adalah orang yang ahli dalam suatu pemrograman tertentu seperti Unix-Hacker

Berdasarkan dua penjabaran tersebut, apakah orang yang bisa melakukan deface, mencari dork online, melakukan SQL Injection bisa disebut sebagai hacker ? Jelas, tidak.

Loh, kok gitu ?

Ya, saya ibaratkan seperti ini.

Suatu hari saya belajar bermain piano, beberapa hari atau bulan atau bahkan tahun berlalu akhirnya saya bisa memainkan lagu sederhana seperti Twinkle Little Star dengan variasinya, Lighty Row, beberapa musik pop, beberapa musik klasik.

Tapi, saya belum lancar membaca not balok, tidak paham teknik menekan tuts secara benar, belum bisa bermain kunci dengan baik.

Pertanyaannya, apakah saya bisa dikatakan sebagai pianis ? Jelas, tidak. Mengapa ? Karena saya tidak paham sepenuhnya soal piano.

Prinsipnya sama dengan hacking. Orang yang bisa deface, atau melakukan kejahilan sederhana berkat Google dan tools yang bertebaran di internet hanyalah salah satu bagian kecil dari skill yang harus dimiliki hacker.

Itu baru awal mula pembelajaran bagaimana menjadi hacker. Tapi, kalau pemrograman saja tidak menguasai, Linux tidak paham, ya selama itu pula ia bukan (tidak bisa disebuthacker.

Kalau memaksa menyebut hacker gimana ? Ya kita namai saja “hacker gadungan”.

Lalu, apa itu ciri – ciri hacker gadungan ?

Nah ini dia ciri – ciri hacker gadungan :

1. Dia membuat akun di media sosial seperti Instagram, Facebook dan atau membuat akun di insant messenger seperti Line, BBM, dan lain sebagainya

Mengapa ini masuk ini ciri hacker gadungan ? Ya karena hacker sebenarnya tidak perlu cari uang dari media seperti itu. Mereka tidak pernah menginginkan akun mereka diketahui apalagi membuka jasa hack media sosial.

Apakah anonymous hacker membuat akun Line atau Instagram juga ? Tidak. Mereka punya komunitas sendiri dan tidak cari uang lewat media sosial seperti itu.

2. Mengaku bisa menghack akun Instagram atau Facebook sedangkan mereka menggunakannya juga

Menurut saya ini adalah kebodohan yang fatal. Kalau mereka benar – benar bisa melakukan hacking pada aplikasi Instagram, Facebok, Twitter, dan lain sebagainya mengapa mereka malah menggunakan aplikasi itu sebagai media promosi ?

Kalau mereka tahu bahwa sebuah aplikasi itu bisa dibobol, lah ngapain mereka pakai aplikasi itu ?

Tidak masuk akal.

3. Kepastian bahwa mereka bisa membobol dalam jangka waktu tertentu

Hari ini saya iseng bertanya kepada salah satu akun yang katanya bisa hack Instagram atau Facebook. Saya tanya begini “Pasti bisa ga (dihack) ?” Dia bilang “Pasti kak… Gak ada yg gak bisa dihack”.

Saya pikir, “wih keren amat ini orang, yakin amat dia bilang ga ada yang gak bisa dihack”.

Ya tidak mungkinlah. Meskipun memang tidak ada sistem yang aman, tetapi bukan berarti semua sistem bisa dihack.

Saya pikir lagi “Facebook, Instagram, Twitter, dsb itu isinya orang – orang yang ahli dalam bidangnya termasuk soal programming, mana mungkin mereka membiarkan sistemnya dibobol oleh orang. Lagipula, mereka pasti punya hacker. Mereka juga sudah melakukan penetration testing secara mendalam sehingga keamanan sudah pasti dipikirkan”

“Jadi, kalau kamu bisa hack sistem mereka maka kamu lebih pintar daripada orang – orang di Facebook, Instagram, dsb dalam hal programming dan keamanan kan ?” Kalau memang jawabannya “iya”, selanjutnya “Mengapa kamu masih cari uang lewat media sosial ini ?” Kan tidak masuk akal.

4. Kalau dapat vuln, kenapa masih disini ?

JIka mereka benar – benar tahu vulnerabilites sebuah sistem dan mereka mengumbar ke sosial media bahkan menjual hasil tekniknya, maka saya bilang dia ini kurang cerdas.

Kok gitu ? Ya iyalah, bagaimana tidak. Facebook, Instagram, dsb sangat concern dengan keamanan. Kalau seseorang bisa hack, bisa dipastikan dia bukanlah orang yang sembarangan. Dan itu dihargai oleh mereka. Alhasil, kalau vulnerabilities atau celah sistem dilaporkan, mereka  yang membeeri laporan akan diberi penghargaan berupa uang dalam jumlah yang tidak sedikit.

Jadi, kalau bisa hack kok masih stay atau cari uang di media sosial itu ngapain ?

5. Tidak tahu soal hukum

Hacker gadungan tidak pernah concern dengan hukum. Kalau mereka melakukan tindakan peretasan dan betul – betul bisa meretas maka mereka akan terjerat hukum dengan Pasal 30 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”) yang berbunyi  “sengaja dan tanpa hak mengakses Komputer atau Sistem Elektronik Orang lain”. Varian delik dalam pasal 30 UU ITE dapat dibagi menjadi tiga perbuatan, yaitu dengan sengaja dan tanpa hak:

1.  Mengakses komputer atau sistem elektronik
2. Mengakses komputer atau sistem elektronik dengan tujuan untuk memperoleh informasi elektronik
3. Melampaui, menjebol, melanggar, sistem pengamanan dari suatu komputer atau sistem elektronik untuk dapat mengakses komputer atau sistem elektronik tersebut

Untuk jelasnya silahkan klik link berikut

Cerita Pribadi tentang Hacker Gadungan yang Ngaku !

Diatas saya katakan bahwa saya menanyai akun hacker, setelah saya tanyai beberapa saat akhirnya dia mengaku.

Percapakan dan tangkapan layarnya bisa dilihat disini

Kesimpulan

Jadi, jangan percaya dengan orang ataupun tools yang mengatakan bahwa orang atau alat itu mampu untuk hack sebuah sstem.

Apakah ada alat yang betul – betul bisa membantu melakukan hacking ? Sangat banyak dan harus dipelajari cara menggunakannya.

Dan bagi rekan – rekan saya yang sering bertanya “Gab, kamu bisa hack ini itu ga ?” Jawabannya jelas, tidak bisaSaya bukan hacker, saya tidak memahami bahasa pemrograman apapun karena itu bukan minat saya. Yang paling penting saya juga tidak ingin dan tidak berniat jadi hacker.

Referensi

Ancaman Pidana bagi peretas (Hacker) akun Facebook orang lain – Hukum online

Anda bukan Haker – Restava

Definisi Hacker – Techtarget

1 thought on “Hacker Gadungan, Tenggelamkan Saja”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *